MATARAM, Media Dinamika Global.id.–Peta perebutan kursi Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) NTB periode 2026-2030 kembali memanas.
Setelah H. Mohan Roliskana dipastikan maju sebagai salah satu kandidat dan mendapat dukungan dari Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal beserta barisan pendukungnya, mantan Ketua KONI NTB H. Mori Hanafi kembali menyatakan kesiapannya untuk bertarung.
Mori menegaskan, munculnya kandidat baru tidak menjadi persoalan baginya. Ia mengaku tetap siap mencalonkan diri dan menghadapi siapa pun yang maju dalam pemilihan Ketua KONI NTB.
“Siapa pun yang dicalonkan, saya tetap siap mencalonkan diri. Siap hadapi siapa pun, tidak ada masalah,” tegas Mori saat di konfirmasi Senin (28/9)
Pernyataan tersebut disampaikan setelah sebelumnya Mori dan Lalu Muhammad Iqbal sama-sama dinyatakan Tidak Memenuhi Syarat (TMS) dalam proses pencalonan Ketua KONI NTB. Kini, dengan munculnya nama Mohan Roliskana, peta persaingan kembali bergerak.
Mori mengatakan, motivasi dirinya untuk kembali maju masih sama seperti pencalonan sebelumnya. Ia menyebut perjuangan NTB bersama Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 bukan pekerjaan ringan.
Karena itu, ia merasa masih memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan proses yang telah diperjuangkan selama ini dapat dituntaskan.
“Perjuangan menuju tuan rumah PON 2028 bersama NTT cukup menguras energi. Itu menjadi tanggung jawab moral saya untuk menuntaskannya,” ujarnya.
Menurut Mori, waktu menuju pelaksanaan PON XXII 2028 semakin dekat. Namun, ia menilai sejumlah persiapan di tingkat pemerintah daerah belum terlihat dalam bentuk blueprint baru yang jelas.
Ia menyebut, hingga kini Pemerintah Provinsi NTB masih menggunakan masterplan yang telah disusun pada periode kepengurusan KONI sebelumnya.
“Waktu pelaksanaan PON tinggal dua tahun lagi. Pemprov saat ini belum punya blueprint, masih menggunakan masterplan KONI sebelumnya. Saya secara pribadi masih berjuang. Sementara proses penjabaran dari yang lainnya belum ada,” katanya.
Mori juga menyoroti belum bergeraknya secara maksimal persiapan di tingkat penyelenggara PON. Menurut dia, pemerintah daerah semestinya lebih aktif membangun komunikasi dan berkoordinasi dengan KONI pusat untuk memastikan tahapan persiapan berjalan sesuai rencana.
“PB PON saat ini belum ada dan belum berjalan. Seharusnya Pemprov aktif ke KONI pusat,” tegasnya.
Ia menilai, sebagai daerah yang akan menjadi tuan rumah PON, NTB membutuhkan kesinambungan program dan kerja dari kepengurusan sebelumnya. Terlebih, proses menuju penetapan NTB dan NTT sebagai tuan rumah PON 2028 telah melalui perjuangan panjang.
Menurut Mori, kepengurusan sebelumnya telah melakukan pemetaan, menyusun masterplan, hingga menyiapkan sejumlah konsep yang berkaitan dengan penyelenggaraan PON.
“Sebagai tuan rumah PON, kita butuh kesinambungan dari pengurus lama. Kami yang memenangkan bidding PON, yang memetakan blueprint, dan yang lainnya. Bahkan masterplan juga sudah kita punya,” bebernya.
Meski demikian, Mori menegaskan dirinya tetap menghormati seluruh kandidat yang muncul dalam bursa Ketua KONI NTB. Ia menyebut kontestasi tersebut merupakan bagian dari dinamika organisasi.
Namun, menurut dia, tantangan terbesar ke depan bukan sekadar memenangkan pemilihan ketua. Kepemimpinan KONI NTB periode 2026-2030 akan berhadapan langsung dengan pekerjaan besar mempersiapkan NTB sebagai tuan rumah PON 2028.
“Saya memang menghormati calon yang maju. Tapi pertaruhan kita ini adalah tuan rumah PON. Memimpin KONI NTB untuk saat ini tidak diperlukan retorika. Namun pengalaman dan kerja yang nyata harus ditunjukkan,” tandasnya. (Sekjend MDG)