Mahasiswa STIT Sunan Giri Bima angkatan 2021.
Kota Bima, Media Dinamika Global.id.-- Atmosfer buminesia terus berkhitmah sesuai dengan kekuasaan si penyadar. Ia manusia dengan segala kesanjungannya. Pergeseran pertama di mulai ketika Adam dan hawa berkhitmah pada makhluk pembangkang (iblis). Pergeseran itu tidak langsung bersama, menunggu kembali rotasi bumi bertahun tahun agar bisa mengakses kembali titik kerinduan.
Kehidupan mulai terdefinisi semenjak titik kerinduan itu beramai dengan hiruk pikuk anak anak Adam dan hawa. Generasi pertama di atas dunia oleh sang ilahi di bekali langsung dengan kemampuan. Kemampuan itu bagi anak anak Adam di taruhkan pada kelimpahan, ada yang bertani dan ada yang beternak. Hingga sang ilahi menaruh harapan pada kelimpahan itu dengan bentuk berbagi secara ikhlas (tanpa memandang imbalan) dan dengan yang mereka cintai. Keduanya berbagi tepati ada satu anak Adam tidak mau melepaskan buah kecintaan nya, sehingga menunaikan pemberian tanpa pertimbangan ikhlas dan bagus nya buah.
Dari atmosfer buminesia oleh Adam serta keluarga nya, banyak manusia sekarang yang meletakkan garis besar perubahan dan perkembangan pada manusia dari unsur kejiwaan. Sebagaimana tokoh filsafat etika memisahkan fungsi jiwa dan jasad. Ibnu miskawaih misalnya, meletakkan jasad sebagai wadah dan jiwa mesin penggerak yang dibungkus oleh jasad. Ibnu miskawaih membagi jiwa menjadi tiga: akal, nafsu, dan amarah. Ketiga potensi jiwa ini menjadi mesin yang bergerak pada bidang nya masing masing dan mengeluarkan asap yang berbeda pada mesin yang namanya jasad.
Ketiga potensi ini juga menjadi indikator utama untuk membentuk cinta dan cita-cita. Cinta bagi Plato ialah kegilaan, karena rasional sebagai subtansi manusia melemah oleh dominasi hayalan, sehingga gila (mania) pada cinta hilang sebagai velue ashabyah (Ibnu Khaldun). Plato mencoba menawarkan cinta itu sebagai pembangun dengan mempertahankan rasionalitas. Sedangkan Wilcox melihat cinta sebagai dorongan yang bisa saja berdayung ke tepian indah atau horor, karena baginya cinta sesungguhnya membutuhkan rangsangan empiris agar bisa memberikan perspektif.
Cita-cita dilihat seperti seseorang di masa depan yang membutuhkan kepastian. Kepastian langkah dan kepastian rencana dan usaha secara konsisten.
Melihat kembali atmosfer buminesia, kini sudah mencoba membawa klaster sosial berlabel mahasiswa. Ia mahasiswa sebagai status yang masih di perebutkan oleh kalangan yang berjiwa atas dasar menjadi kaum intelektual.
Menjadi mahasiswa rada gampang-susah, karena harus menunaikan komersialisasi bekas kolonialisme. Alternatif nya mencari kampus termurah dan tergampang walau masih ada komersialisasinya.
Tetapi hampir juga menjadi mahasiswa bukanlah keinginan utuh, melainkan pelampiasan dari kegagalan yang pernah diusahakan. Seakan menjadi manusia waras itu bukan tujuan utama. Dua hal yang mengiringi seseorang menjadi mahasiswa: ketidakmampuan finansial dan kegagalan usaha.
Dua indikator itu menjadi pembentukan definisi cita cita itu, ingin menjadi mahasiswa yang memanusiakan manusia, berpikir kritis, problem solving, dan adaptif terhadap pengembangan zaman. Begitu kira kira kopian pada tujuan pendidikan ki hadjar Dewantara dan tan Malaka. Banyak orang orang yang memilih kampus terdekat dan termurah hanya untuk mempertahankan formalitasnya sebagai manusia berpikir.
Menjadi mahasiswa dengan kampus terdekat dan termurah sudah jelas bukan keinginan utama, tetapi nasib yang berotasi dari kegagalan dan keterbatasan. Namun, cita cita akan terbentuk seiring harapan dan doa orang tua agar menjadi mahasiswa yang seperti Ki hadjar Dewantara dan tan Malaka sampaikan. Tentunya sebagai mahasiswa yang di dorong nasib, harus memiliki spirit belajar yang lebih giat, mandiri sesuai kondisi, bersyukur pada kesempatan, dan bersabar akan kelanjutannya.
Sebaliknya, Jika mahasiswa yang dibentuk oleh nasib tidak pernah memiliki spirit belajar yang lebih giat, mandiri sesuai kondisi, bersyukur pada kesempatan, dan bersabar akan kelanjutannya. Maka harapan apa lagi yang harus di perjuangkan di meja ekonomi.
Secara antropologi, menjadi seseorang dengan kemampuan finansial dan punya pilihan sendiri akan memilih kampus terbaik, termahal, termegah, dan terjauh. Karena jikapun ia tidak belajar dengan baik, ia masih mempertaruhkan nama besar kampus nya, dan kemampuan finansial nya untuk menciptakan catur ekonomi. Tidak bagi mahasiswa yang gara gara nasib, ia tidak akan bisa berbuat apa-apa jika tidak Punya kemampuan diri.
Nasib menjadi mahasiswa sudah seharusnya membuat kita introspeksi diri, karena tidak ada nama kampus yang akan di jual, toh kita pilih kampus yang mungkin tidak pernah di kenal masyarakat awam apalagi catur ekonomi. Artinya nasib bukan kembali pada tuhan semata, itu adalah pilihan kita dan kita yang menetapkan maka kita juga akan memperjuangkan.
Cita cita dari dorongan orang tua di bentuk melalui intropeksi diri, hindari gengsi, dan mulai tinggalkan lingkungan toxic. Sebagaimana crow and crow, belajar adalah mengubah karakter lama menuju karakter baru yang lebih cemerlang.
Ayo sayangi diri supaya di sayangi orang lain, Jangan karena kita miskin harta lantas kita ingin miskin intelektual.(Sekjend MDG)