Donggo, Media Dinamika Global.id.-- Di sebuah desa yang terletak di balik bukit tinggi, bernama Desa Doridungga, semua orang mengenal Bapak Sudirman. Selama beberapa tahun, beliau mengabdi sebagai Kepala Urusan pendamping Desa. Posisinya mapan, kerjanya nyata, dan yang paling penting, masa jabatannya masih tersisa enam tahun penuh—sebuah zona nyaman yang diimpikan banyak orang di birokrasi desa.
Namun, sebuah keputusan besar tiba-tiba menghebohkan jagat Doridungga.
Bapak Sudirman memilih mundur dari jabatannya. Bukan karena beliau lelah, bukan pula karena ada konflik. Keputusan itu murni lahir dari panggilan jiwa yang lebih besar.
Tentu Langkah mundurnya memicu kasak-kusuk di kedai kopi hingga pematang sawah. Banyak warga bertanya-tanya, "Mengapa melepaskan posisi yang sudah pasti demi sesuatu yang belum tentu?"Bagi Bapak Sudirman, jawabannya sangat sederhana: ini bukan tentang mengejar jabatan yang lebih tinggi, melainkan tentang mengabdi secara lebih nyata dan memastikan keberlanjutan masa depan Desa Doridungga.
Selama menjadi pendamping desa Doridungga kecamatan donggo, Bapak Sudirman S.Sos, melihat dari dekat setiap denyut nadi kehidupan warga. Beliau tahu betul potensi pertanian yang belum maksimal, hingga mimpi anak-anak muda Oitui yang ingin desanya lebih maju. Beliau sadar, ruang geraknya sebagai calon Kades memiliki batasan. Untuk membawa perubahan besar yang berkelanjutan, ia harus berani mengambil tanggung jawab yang lebih besar: salah satunya ialah menjadi Kepala Desa Doridungga.
Pengorbanan melepaskan enam tahun sisa jabatan adalah bukti nyata bahwa bagi Bapak Sudirman, kesejahteraan Oitui berada di atas kepentingan pribadinya. Beliau tidak sedang mencari kekuasaan,tidak mencari uang, melainkan ruang yang lebih luas untuk melayani,merangkul dan bebuat tanpa pamrih untuk masyarakat Doridungga Tercinta.
Beliau ingin memastikan bahwa program-program baik yang sudah berjalan tidak berhenti di tengah jalan, melainkan berlanjut dan berkembang demi anak masyarakat Doridungga.
Kini, langkah Bapak Sudirman S.Sos, menuju kursi kepala desa bukan lagi tentang ambisi politik. Ini adalah sebuah gerakan ketulusan, sebuah janji pengabdian tanpa batas, untuk membawa Desa Doridungga menjadi desa yang mandiri, maju, dan sejahtera.
Sebab bagi Bapak Sudirman, pemimpin sejati tidak diukur dari seberapa lama ia menduduki jabatan, melainkan seberapa besar ia berani berkorban demi kemaslahatan orang banyak.
Dengan Nawacita Doridungga MAKATAHO Bapak Sudirman secara Lahir Batin Ingin berjuang ,mengabdi secar tulus ikhlas kepada masyarakat Desa Doridungga kecamatan donggo.(Tim MDG)
