Sejarah STIKES Yahya Bima Tumbuh dan Tetap Memiliki Martabat - Media Dinamika Global

Senin, 07 September 2026

Sejarah STIKES Yahya Bima Tumbuh dan Tetap Memiliki Martabat


Bima, Media Dinamika Global.id.-- STIKES Yahya Bima menyimpan begitu banyak cerita. Sebagian terlihat dalam aktivitas akademik, rapat, penelitian, pelayanan, dan rutinitas sehari-hari. Namun, sebagian lainnya hanya tinggal dalam ingatan, tentang kebersamaan, perjuangan, tawa, perbedaan, kekecewaan, dan luka yang tidak selalu terucapkan.

Bagi saya, di sanalah makna romantisme pahit menemukan tempatnya.

Bukan tentang kisah cinta, melainkan tentang perjalanan panjang bersama sebuah institusi yang pernah menjadi bagian dari hidup. Ada lelah yang dijalani bersama, perdebatan yang pernah terjadi, perbedaan pandangan yang kadang menjauhkan, tetapi juga ada kebersamaan yang membuat kita kembali pada satu tujuan: Melihat STIKES Yahya Bima tumbuh dan tetap memiliki martabat.

Ada kebahagiaan ketika melihat mahasiswa berhasil menuntaskan pendidikan. Ada kebanggaan menyaksikan mereka mengenakan toga dan membawa ilmu yang diperoleh ke tengah masyarakat. Ada kepuasan ketika sebuah perjuangan akhirnya menghasilkan sesuatu yang berarti.

Namun, perjalanan tidak selalu menghadirkan rasa manis. Ada kerja keras yang luput dari perhatian, idealisme yang berhadapan dengan kepentingan, keputusan yang tidak selalu mudah diterima, serta perbedaan yang terkadang membuat mereka yang seharusnya berjalan bersama justru saling berseberangan.

Mungkin itulah harga dari sebuah pengabdian.

Saya belajar bahwa mencintai institusi tidak berarti menutup mata terhadap kekurangannya. Justru ketika rasa memiliki masih ada, kritik menjadi bentuk kepedulian, koreksi menjadi wujud tanggung jawab, dan keberanian memperjuangkan keadilan menjadi bagian dari pengabdian.

STIKES Yahya Bima bukan hanya bangunan, jabatan, aturan, atau sekumpulan manusia. Ia adalah kumpulan jejak kehidupan, dibangun oleh pikiran, tenaga, waktu, pengorbanan, dan mungkin juga air mata yang tidak pernah tercatat.

Karena itu, setiap luka tidak selalu harus dimaknai sebagai akhir. Bisa jadi ia adalah cara kehidupan mengajarkan bahwa sesuatu yang kita cintai masih membutuhkan perhatian dan perbaikan.

Bagi saya, romantisme yang paling dewasa bukanlah berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Romantisme adalah tetap peduli ketika kecewa, tetap menjaga ketika lelah, dan tetap berharap ketika keadaan belum sesuai dengan yang diinginkan.

Pada akhirnya, jabatan akan berganti, orang-orang akan datang dan pergi, dan waktu akan menghapus banyak peristiwa dari ingatan. Tetapi jejak pengabdian akan selalu menemukan tempatnya dalam sejarah.

Mungkin kelak kita tidak lagi sibuk mengingat siapa yang paling benar.

Kita hanya akan mengingat bahwa pernah ada orang-orang yang memilih bertahan dengan prinsip, bekerja dengan ketulusan, dan berusaha meninggalkan sesuatu yang lebih baik bagi generasi berikutnya.

Itulah Romantisme Pahit: sebuah perjalanan yang tidak selalu manis, tetapi tetap layak dicintai karena di dalam kepahitannya terdapat pelajaran tentang manusia, pengabdian, dan arti sebuah perjuangan.


Dan suatu hari, ketika menoleh ke belakang, mungkin kita akan tersenyum dan menyadari:

“Ternyata, tidak semua yang pahit harus disesali. Sebagian justru menjadi bagian paling bermakna dari perjalanan.”

Redaksi II

Comments