Donggo, Media Dinamika Global.id.-- Sudirman Yakub, S.Sos., bukan sekadar nama yang lahir dari silsilah keluarga, tetapi representasi dari mata rantai sejarah perjuangan yang diwariskan dari rahim seorang tokoh pejuang 1972 Donggo, @Yakub Dode.
Ia tumbuh dalam dialektika kehidupan, ditempa oleh tradisi intelektual Universitas Mbojo Bima, dan menemukan watak perjuangannya di bawah naungan Bendera Hijau Hitam HMI—tempat gagasan diuji oleh realitas, idealisme ditempa untuk kepentingan rakyat, dan keberanian berpikir dituntut untuk berujung pada keberanian bertindak.
Pada erspektif ini, perjuangan bukanlah romantisme masa lalu; perjuangan adalah keberanian untuk mempertahankan kebenaran ketika kepentingan sedang berkuasa. Karena itu, saya MENG-UP beliau bukan semata-mata karena hubungan darah sebagai seorang Paman, tetapi karena saya melihat nilai panjang sebuah perjalanan dan Perjuangan. Konsistensi yang tidak mudah dibeli, idealisme yang tidak mudah ditundukkan, serta prinsip dalam dirinya tidak pernah dikorbankan hanya pada kepentingan sesaat. Sebab dalam hukum perubahan sosial, sejarah tidak bergerak karena pergantian nama di kursi kepemimpinan; sejarah bergerak ketika hadir manusia yang memiliki keberanian untuk berpikir, keteguhan untuk berdiri pada prinsip, dan kesediaan untuk mengabdikan dirinya bagi kepentingan bersama, dan kami yakin itu semua ada pada diri beliau.
Hari ini, akumulasi perjuangan itu menemukan medan praksisnya di Doridungga. Ia memilih menjadi Calon Kepala Desa Doridungga bukan semestinya dibaca sebatas pergantian figur administratif, tetapi sebagai momentum untuk mengembalikan politik kepada substansinya: keberpihakan kepada rakyat, rasionalitas dalam mengambil keputusan, dan keberanian membangun masa depan desa dengan nalar yang sehat.
DOU LABO DANA tidak boleh berhenti sebagai slogan yang diproduksi menjelang kontestasi; ia harus menjadi etika pemerintahan, paradigma pembangunan, dan kompas moral dalam setiap kebijakan. Kami percaya, Sudirman Yakub, S.Sos, adalah pemimpinan yang lahir dari proses panjang akan memahami bahwa desa bukan panggung untuk mempertontonkan kekuasaan, melainkan ruang untuk mengabdikan pengetahuan, tenaga, serta keberanian. Sebab sejarah selalu memberi tempat kepada mereka yang berani mengambil posisi ketika zaman menuntut perubahan.
"Bila politik adalah seni mengorganisasi harapan, maka perjuangan dirimu adalah ikhtiar untuk memastikan bahwa harapan masyarakat Doridungga tidak berhenti sebagai kata-kata—tetapi menjadi kerja nyata, menjadi keberpihakan, dan menjadi masa depan yang diperjuangkan bersama.
Atas nama sang Illahi Rabbi, dengan melafazkan Basmallah "Bismillahirrahmanirrahim".
Dengan ikhtiar, Do'a, serta Dukungan dari semua pihak, bahwa KEMENANGAN akan ada pada kita bersama. (HaqqulYaqin)
"ALLAHUAKBAR"
